Sabtu, 24 September 2011

''Anak ibu itu kan hakim....''

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa aku pergi kerja. Dan seperti biasa juga, aku terjebak macet. Waktu itu angkot penuh, dan aku duduk di pojok belakang, dekat pintu, ada seorang nenek dan seorang ibu yang masih muda, sepertinya ibu muda itu seorang guru. Nenek itu berpenampilan layaknya wanita indonesia jaman dulu. Berkebaya dan tentu saja mengenakan 'ciput nini'. Saat itu sopir menyetel lagu daerah padang. Jadi lengkaplah sudah, macet, panas dan melengkinglah lagu melayu.


Aku lupa bagaimana awal perbincangan antara ibu dan nenek itu dimulai. Kalau tidak salah pertamanya nenek itu menanyakan tempat pembayaran pajak dan tentu saja mengeluh tentang besarnya pajak yang harus dia bayar. Dan tiba tiba dia berkata: ''ibu merasa sedih kalau mendengar lagu melayu, suka inget sama anak ibu yang sedang tugas di padang, anak ibu itu kan hakim...''

kau pasti tahu bahwa setiap kali seorang ibu membicarakan kehebatan anaknya, mereka pasti akan berkata dengan mata yang berbinar, aku membayangkan kalau nenek itu adalah ibuku, dan beliau juga akan dengan mata berbinar menceritakan kebanggaan nya, anak semata wayangnya yang berhasil. Aku merasa kasihan pada ibuku, karena aku tidak dapat membuatnya seperti itu...

Maafkan aku, ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar